<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Filippo Inzaghi &#8211; SpeakBola</title>
	<atom:link href="https://speakbola.com/tag/filippo-inzaghi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://speakbola.com</link>
	<description>Bicara Bola ya Speakbola aja!</description>
	<lastBuildDate>Sun, 10 Sep 2023 04:50:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://speakbola.com/wp-content/uploads/logo-only-32x32.png</url>
	<title>Filippo Inzaghi &#8211; SpeakBola</title>
	<link>https://speakbola.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>5 Duet Striker Terbaik Era 90-an, Momok di Zamannya!</title>
		<link>https://speakbola.com/duet-striker-terbaik-90an/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[SpeakBola Writer]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 20 Oct 2022 07:16:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Offside]]></category>
		<category><![CDATA[Alessandro Del Piero]]></category>
		<category><![CDATA[Any Cole]]></category>
		<category><![CDATA[Bebeto]]></category>
		<category><![CDATA[Duet Maut]]></category>
		<category><![CDATA[Duet Striker Terbaik]]></category>
		<category><![CDATA[Dwight Yorke]]></category>
		<category><![CDATA[Enrico Chiesa]]></category>
		<category><![CDATA[Filippo Inzaghi]]></category>
		<category><![CDATA[Hernan Crespo]]></category>
		<category><![CDATA[Ivan Zamorano]]></category>
		<category><![CDATA[Marcelo Salas]]></category>
		<category><![CDATA[Romario]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://speakbola.com/?p=2864</guid>

					<description><![CDATA[<p>(speakbola.com) &#8211; Seiring berkembangnya taktik di dunia sepak bola, pakem formasi 4-4-2 yang jadi favorit pelatih era 1990 hingga 2000-an mulai ditinggalkan. Penempatan para duet striker terbaik di ujung formasi mulai bergeser menjadi trio atau satu bomber saja.  Tim-tim era modern saat ini lebih sering menggunakan pakem 4-3-3, 4-2-3-1, atau 3-4-3. Kondisi ini secara langsung [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://speakbola.com/duet-striker-terbaik-90an/">5 Duet Striker Terbaik Era 90-an, Momok di Zamannya!</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://speakbola.com">SpeakBola</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>(speakbola.com) </strong>&#8211;<span style="font-weight: 400;"> Seiring berkembangnya taktik di dunia sepak bola, pakem formasi 4-4-2 yang jadi favorit pelatih era 1990 hingga 2000-an mulai ditinggalkan. Penempatan para duet striker terbaik di ujung formasi mulai bergeser menjadi trio atau satu bomber saja. </span></span></p>
<p><span style="font-weight: 400; font-size: 12pt;"><span style="font-weight: 400;">Tim-tim era modern saat ini lebih sering menggunakan pakem 4-3-3, 4-2-3-1, atau 3-4-3. Kondisi ini secara langsung menggerus kemitraan duo penyerang yang amat populer di era 90an. </span></span></p>
<p><span style="font-weight: 400; font-size: 12pt;">Kini sebutan penyerang juga tidak hanya identik kepada dua striker atau seorang bomber saja tapi juga bisa seorang winger. Ambil contoh Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, mereka adalah penyerang tajam yang beroperasi di sisi kanan atau kiri lapangan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400; font-size: 12pt;">Namun sejatinya perkembangan taktik sepak bola tidak serta merta menyebabkan hilangnya duet maut di lapangan. Hanya saja duet itu saat ini bisa terjadi antara striker dengan winger atau striker dengan gelandang. Kalaupun ada duet antara striker dengan striker jumlahnya tidak sebanyak dan seikonik dahulu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400; font-size: 12pt;">Untuk itu, demi menyegarkan ingatan Speakers sekalian, rubrik Offside kali ini akan menyuguhkan duet-duet striker maut yang menjadi momok di era 90-an.</span></p>
<h2></h2>
<h2>1. Chiesa &#8211; Crespo</h2>
<p><span style="font-size: 12pt;">Era keemasan sepak bola Italia berada di akhir masa 90-an. Saat itu klub-klub dari Italia menguasai turnamen-turnamen sepak bola Eropa.</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt;">AC Parma adalah salah satu klub Italia yang sempat mencicipi masa keemasan itu. Sebelum dilanda kebangkrutan dan menjadi tim medioker, Parma adalah salah klub berbahaya di Serie A dekade 1990-an.</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt;">Diperkuat Gianluigi Buffon, Lilian Thuram, Fabio Cannavaro, Veron, dan Dino Baggio, klub kota keju ini juga memiliki duet striker terbaik pada eranya, yaitu Enrico Chiesa dan Hernan Crespo.</span></p>
<blockquote class="twitter-tweet">
<p dir="ltr" lang="it">Crespo, Cannavaro, Verón, Thuram, Buffon&#8230; 💛💙</p>
<p>📅 <a href="https://twitter.com/hashtag/OnThisDay?src=hash&amp;ref_src=twsrc%5Etfw" target="_blank" rel="noopener">#OnThisDay</a> in 1999, Parma won the UEFA Cup <a href="https://twitter.com/hashtag/UEL?src=hash&amp;ref_src=twsrc%5Etfw" target="_blank" rel="noopener">#UEL</a> | <a href="https://twitter.com/hashtag/OTD?src=hash&amp;ref_src=twsrc%5Etfw" target="_blank" rel="noopener">#OTD</a> | <a href="https://twitter.com/1913parmacalcio?ref_src=twsrc%5Etfw" target="_blank" rel="noopener">@1913parmacalcio</a> <a href="https://t.co/AkYmQ7qNEe">pic.twitter.com/AkYmQ7qNEe</a></p>
<p>— UEFA Europa League (@EuropaLeague) <a href="https://twitter.com/EuropaLeague/status/1260163598694875136?ref_src=twsrc%5Etfw" target="_blank" rel="noopener">May 12, 2020</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p><span style="font-size: 12pt;">Duet Chiesa dan Crespo berlangsung selama tiga musim, dengan Chiesa sendiri melesakkan 33 gol sedangkan Crespo 62 gol. Di samping itu, duet maut dua striker ini juga mampu menyumbangkan sederet trofi bagi klub. Tercatat Parma di bawah duo penyerang tajam ini mampu meraih Coppa Italia 1998/1999, UEFA Cup 1998/1999, dan Supercoppa Italiana 1999.</span></p>
<h2></h2>
<h2>2. Andy Cole &#8211; Dwight Yorke</h2>
<p><span style="font-size: 12pt;">Kesuksesan <a href="https://speakbola.com/tag/manchester-united/">Manchester United</a> di musim 1998/1999 dalam meraih treble winner tidak bisa lepas dari kontribusi dua bomber yang mereka miliki, Andy Cole dan Dwight Yorke.</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt;">Kedua striker ini menjalin sinergi brilian dalam menjadi lini gedor setan merah. Duet mereka disokong Giggs di sisi kiri, <a href="https://speakbola.com/tag/david-beckham/">Beckham</a> di kanan, serta Roy Keane dan Scholes di tengah, mampu mencetak 53 gol di semua kompetisi sepanjang musim 1998/1999.</span></p>
<blockquote class="twitter-tweet">
<p dir="ltr" lang="en">📹 | Yorke &amp; Cole 😍<a href="https://twitter.com/hashtag/MUFC?src=hash&amp;ref_src=twsrc%5Etfw" target="_blank" rel="noopener">#MUFC</a> <a href="https://t.co/NUMM7zCZcN">pic.twitter.com/NUMM7zCZcN</a></p>
<p>— ΛROUND THE GROUNDS (@ArndTheGrnds) <a href="https://twitter.com/ArndTheGrnds/status/1542218914733723651?ref_src=twsrc%5Etfw" target="_blank" rel="noopener">June 29, 2022</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p><span style="font-size: 12pt;">Kombinasi passing satu-dua sentuhan keduanya nyaris tidak bisa dihentikan bek-bek lawan. Duet Cole dan Yorke menjadi salah satu duet striker terbaik di liga Inggris saat itu.</span></p>
<blockquote><p><span style="font-size: 14pt;">&#8220;Dwight dan saya adalah kutub yang berlawanan, itu sebabnya kami cocok. Apa yang dia suka, saya tidak, dan sebaliknya. Kami adalah Ying dan Yang.&#8221; &#8211; Andy Cole</span></p></blockquote>
<p><span style="font-size: 12pt;">Dalam sebuah interview bersama <a href="https://www.planetfootball.com/in-depth/andy-cole-i-had-a-unique-bond-with-dwight-yorke-at-manchester-united/" target="_blank" rel="noopener">planetfootball</a>, Andy Cole mengungkapkan resep keberhasilan duetnya bersama Yorke. Menurutnya, justru karena mereka amat berbeda yang menyebabkan mereka menjadi cocok membentuk duet maut terbaik di Manchester United.</span></p>
<h2></h2>
<h2><span data-sheets-value="{&quot;1&quot;:2,&quot;2&quot;:&quot;Salas - Zamorano&quot;}" data-sheets-userformat="{&quot;2&quot;:513,&quot;3&quot;:{&quot;1&quot;:0},&quot;12&quot;:0}">3. Salas &#8211; Zamorano</span></h2>
<p><span style="font-size: 12pt;">Marcelo Salas dan Ivan Zamorano membentuk sebuah duet maut di lini serang Timnas Chili. Duet antara senior dan junior ini dianggap sebagai salah satu duet paling mematikan dalam sepak bola internasional.</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt;">Ivan Zamorano sudah lebih dulu menjadi anggota Tim Nasional Chili ketika Marcelo Salas muncul sebagai wonderkid, menerobos dari Timnas junior ke senior Chili pada tahun 1994.</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt;">Duo striker terbaik di Amerika Selatan ini memainkan peran penting dalam perjalanan negara mereka menuju <a href="https://speakbola.com/tag/piala-dunia/">Piala Dunia</a> 1998. Saat kualifikasi, SaZa, begitu pasangan emas ini disebut, membuat serangkaian momen yang tak terlupakan dan secara dramatis berangkat ke Prancis.</span></p>
<blockquote class="twitter-tweet">
<p dir="ltr" lang="en">What a duo Marcelo Salas and Ivan Zamorano were! <a href="https://t.co/Io1NUmLBJF">pic.twitter.com/Io1NUmLBJF</a></p>
<p>— 90s Football (@90sfootball) <a href="https://twitter.com/90sfootball/status/1400170351313637379?ref_src=twsrc%5Etfw" target="_blank" rel="noopener">June 2, 2021</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p><span style="font-size: 12pt;">Duo SaZa terlibat hebat saat Chili memusnahkan Ekuador 4-1 di babak kualifikasi Piala Dunia 1998. Zamorano menjaringkan 2 gol manakala Marcelo Salas menjaringkan 1 gol dan 1 assist kepada Zamorano ketika itu.</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt;">Seterusnya mereka berdua konsisten saling menyumbangkan gol ataupun assist ketika bermitra di lini serang Chili. Prestasi cemerlang mereka berdua membuat tim kuda hitam Chili melaju ke Piala Dunia Prancis 1998.</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt;">Yang mengagumkan dari duet mereka adalah, Saza muncul sebagai pencetak gol terbanyak saat babak kualifikasi Piala Dunia 1998 zona Amerika Selatan. Masing-masing menjaringkan 12 dan 11 gol. Total 23 gol persembahan duet striker ini sudah cukup untuk memberitahu dunia bahwa salah satu duet striker terbaik dunia ada di Chili.</span></p>
<h2></h2>
<h2><span style="font-size: 18pt;" data-sheets-value="{&quot;1&quot;:2,&quot;2&quot;:&quot;Salas - Zamorano&quot;}" data-sheets-userformat="{&quot;2&quot;:513,&quot;3&quot;:{&quot;1&quot;:0},&quot;12&quot;:0}">4. Romario &#8211; Bebeto</span></h2>
<p><span style="font-size: 12pt;">Dekade 90-an adalah salah satu masa keemasan Tim Nasional Brasil di kancah dunia. Pada masa itu, tim samba berhasil menjadi juara Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Keberhasilan menjadi juara dunia itu tidak lepas dari dua sosok penting lini depan mereka, Romario dan Bebeto.</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt;">Selama turnamen empat tahunan itu, Romario dan Bebeto menjalin kemitraan yang amat brilian. Total delapan gol mereka jaringkan untuk Brasil dalam turnamen akbar tersebut. Bebeto mengoleksi 3 gol sementara tandemnya Romario 5 gol. Kerjasama mereka berdua menjadi salah satu duet striker terbaik di Piala Dunia 1994.</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt;">Salah satu aksi yang paling diingat dari duet legendaris ini adalah saat babak perempar final di mana Brasil bertemu dengan Belanda. Bermain di stadion Rose Bowl dan di saksikan 64.000 penonton, Romario membawa Brasil memimpin 1-0 dengan gol klasiknya. Siapa pengumpannya? tentu saja sang rekan, Bebeto dari sisi kiri.</span></p>
<blockquote class="twitter-tweet">
<p dir="ltr" lang="en"><a href="https://twitter.com/hashtag/OnThisDay?src=hash&amp;ref_src=twsrc%5Etfw" target="_blank" rel="noopener">#OnThisDay</a> 1994<br />
Brazil beat Holland 3-2 to reach the World Cup semi-finals. Bebeto was on the scoresheet which led to a classic celebration</p>
<p>🇳🇱Holland 2️⃣ Bergkamp ⚽️, Winter ⚽️<br />
🇧🇷Brazil 3️⃣ Romário ⚽️, Bebeto ⚽️, Branco ⚽️<a href="https://t.co/wRhBgXJ2Dr">pic.twitter.com/wRhBgXJ2Dr</a></p>
<p>— Football Remind (@FootballRemind) <a href="https://twitter.com/FootballRemind/status/1413385995966418947?ref_src=twsrc%5Etfw" target="_blank" rel="noopener">July 9, 2021</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p><span style="font-size: 12pt;">Sepuluh menit kemudian, tim Samba menambah keunggulan, kali ini giliran Bebeto mencetak gol dan merayakannya dengan sebuah selebrasi ikonik, yaitu menimang bayi. Usai melakukan selebrasi itu, Bebeto langsung merangkul pemain di sebelahnya, dia adalah Romario rekan duetnya,</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt;">Chemistry antara Romario dan Bebeto di dalam lapangan adalah hal alami, padahal dalam kehidupan pribadi, mereka memiliki hubungan yang tidak harmonis. Di luar lapangan, salah satu duet striker terbaik sepanjang masa ini memiliki pandangan, kepribadian, dan gaya hidup yang berbeda sehingga ketika bersatu mereka mampu melebur menjadi duo subur.</span></p>
<blockquote><p><span style="font-size: 14pt;">“Kami adalah orang yang berbeda, Bebeto adalah tipe keluarga, tinggal di rumah. Sedangkan saya kucing jalanan.” &#8211; Romario, dikutip dari <a href="https://thesefootballtimes.co/2019/09/18/how-romario-and-bebeto-set-aside-a-personal-rivalry-to-forge-a-legendary-international-partnership/" target="_blank" rel="noopener">thesefootballthemes.</a></span></p></blockquote>
<h2></h2>
<h2><span style="font-size: 18pt;">5. Del Pippo &#8211; Duet Striker Terbaik Liga Italia Serie A</span></h2>
<p><span style="font-size: 12pt;">Salah satu duet striker paling berbahaya di akhir dekade 90-an, Alessandro Del Piero dan Filippo Inzaghi. Entah bagaimana Inzaghi si <a href="https://speakbola.com/fillipo-inzaghi-terlahir-offside/">raja offside</a> dapat menjadi sejoli yang amat pas bagi sang fantasista, Alessandro Del Piero.</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt;">Inzaghi, yang musim sebelumnya, 1996/1997, menjadi top skor Serie A setelah menyumbang 24 gol untuk Atalanta direkrut Juventus demi mengisisi posisi lini gedor Si Nyonya Tua yang kosong usai ditinggal Christian Vieri ke Atletico Madrid dan Alen Boksic ke Lazio.</span></p>
<blockquote class="twitter-tweet">
<p dir="ltr" lang="en">Juventus beat Milan 4-1 in the Serie A, thanks to goals from Alessandro Del Piero &amp; Filippo Inzaghi, 1998. <a href="https://t.co/b3S8Ei5cKj">pic.twitter.com/b3S8Ei5cKj</a></p>
<p>— 90s Football (@90sfootball) <a href="https://twitter.com/90sfootball/status/1057738990210744320?ref_src=twsrc%5Etfw" target="_blank" rel="noopener">October 31, 2018</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p><span style="font-size: 12pt;">Dengan disokong playmaker sekelas Zinedine Zidane, duet Del-Pippo menjadi momok bagi pertahanan lawan. Selama priode duet mereka, yaitu empat musim, pasangan emas ini mengantarkan Nyonya Tua meraih titel Serie A 1997/1998, Piala Super Italia 1997, dan UEFA Intertoto Cup 1999.</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt;">Pada musim 1997/1998, kolaborasi Del-Pippo menghasilkan 39 gol dari 67 laga Juventus. Si Nyonya Tua pun sukses merengkuh scudetto yang ke-25.</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt;">Seiring berkembangnya permainan sepak bola ke arah yang lebih cepat dan dinamis, muncul lini gedor baru di dunia sepak bola. Bukan lagi duo yang menjadi primadona, kini trio yang merajalela. Sebut saja trio Bale-Benzema-Ronaldo (BBC), Messi-Neymar-Suarez (MSN), dan yang terkini ada Messi, Neymar, Mbappe (<a href="https://speakbola.com/messi-neymar-mbappe-tidak-akur/">MNM</a>) di PSG. </span></p>
<p><span style="font-size: 12pt;">Pun demikian, duet-duet maut di atas tetap patut di kenang sebagai duet striker terhebat sepanjang masa. </span></p>
<p><span style="font-size: 12pt;">Bicara bola ya SpeakBola aja!</span></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://speakbola.com/duet-striker-terbaik-90an/">5 Duet Striker Terbaik Era 90-an, Momok di Zamannya!</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://speakbola.com">SpeakBola</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Filippo Inzaghi: Striker yang Terlahir Offside</title>
		<link>https://speakbola.com/fillipo-inzaghi-terlahir-offside/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[SpeakBola Writer]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 12 Sep 2022 09:38:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Offside]]></category>
		<category><![CDATA[AC MIlan]]></category>
		<category><![CDATA[Filippo Inzaghi]]></category>
		<category><![CDATA[pemain sepak bola]]></category>
		<category><![CDATA[Pemain Terbaik]]></category>
		<category><![CDATA[Profil Pemain]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://speakbola.com/?p=1558</guid>

					<description><![CDATA[<p>“Anak itu (Filippo Inzaghi) pasti terlahir offside” &#8211; Sir Alex Ferguson (speakbola.com) &#8211; Demikianlah kalimat yang dilontarkan oleh mantan pelatih Manchester united, Sir Alex Ferguson mengomentari cara bermain Filippo Inzaghi yang khas. Selain itu, Sir Alex juga menyebut Inzaghi sebagai pemain yang tidak banyak bergerak. Melihat bagaimana Inzaghi mencetak gol, seperti melihat seorang balita menendang [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://speakbola.com/fillipo-inzaghi-terlahir-offside/">Filippo Inzaghi: Striker yang Terlahir Offside</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://speakbola.com">SpeakBola</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>“Anak itu (Filippo Inzaghi) pasti terlahir offside” &#8211; Sir Alex Ferguson</p></blockquote>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>(speakbola.com)</strong> &#8211; Demikianlah kalimat yang dilontarkan oleh mantan pelatih Manchester united, <a href="https://sport360.com/article/football/13325/he-must-have-been-born-offside-fergusons-best-man-utd-quotes" target="_blank" rel="noopener">Sir Alex Ferguson</a> mengomentari cara bermain Filippo Inzaghi yang khas. Selain itu, Sir Alex juga menyebut Inzaghi sebagai pemain yang tidak banyak bergerak. Melihat bagaimana Inzaghi mencetak gol, seperti melihat seorang balita menendang bola ke gawang kecil yang sedang dijaga oleh ayahnya. Lemah, lambat, biasa, tapi berbuah gol.</span></p>
<h2>Karir Sepak Bola Filippo Inzaghi</h2>
<p><span style="font-size: 12pt;">Filippo &#8220;Pippo&#8221; Inzaghi lahir pada tanggal 9 Agustus 1973 di Piacenza, Italia. Pemain berkebangsaan Italia ini menempati posisi sebagi seorang striker.</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt;">Inzaghi mulai bermain bersama Piacenza Calcio pada saat masih remaja di tahun 1991. Tetapi hanya tampil 2 kali sebelum dipinjamkan ke klub Serie C1, Leffe, di mana dia berhasil mencetak 13 gol dalam 21 pertandingan. Pada tahun 1993, ia pindah ke klub Serie B Verona dan mencetak 13 gol dalam 36 kali penampilannya. Kemudian dia kembali ke Piacenza dan berhasil mencetak 15 gol dalam 37 penampilannya.</span></p>
<h3>Karir Klub Filippo Inzaghi</h3>
<ul>
<li>
<h4><strong>AC Parma (1995–1996)</strong></h4>
</li>
</ul>
<p><span style="font-size: 12pt;">Melihat rekam jejak Inzaghi di Piacenza yang berprospek cerah, tahun 1995 AC Parma membelinya. Namun pada musim pertamanya bersama Parma, Pippo hanya mencetak 2 gol dari 15 pertandingan di Serie A, di mana salah satu golnya ia cetak ke gawang bekas klubnya, Piacenza. Ia juga mencetak 2 gol bersama Parma di Piala Winners.</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt;">Penampilan Inzaghi yang tidak memuaskan, membuat Parma meminjamkannya ke Atalanta.</span></p>
<ul>
<li>
<h4><strong> Atalanta (1996–1997)</strong></h4>
</li>
</ul>
<p><iframe title="YouTube video player" src="https://www.youtube.com/embed/qEDbRds7dwA" width="560" height="315" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe></p>
<p><span style="font-size: 12pt;">Di sinilah karier Inzaghi bersinar. Satu musim bersama Atalanta, Inzaghi menjadi Capocannoniere atau top skor di  Serie A dengan 24 gol dalam 33 penampilan. Ia pun berhasil mencetak gol ke semua gawang lawannya dan pada musim itu pula ia mendapat penghargaan <em>Serie A Young Footballer of the Year</em>. Berkat jasanya, pada pertandingan terakhir Atalanta di musim tersebut ia ditunjuk sebagai kapten.</span></p>
<ul>
<li>
<h4><strong> Juventus (1997–2001)</strong></h4>
</li>
</ul>
<p><span style="font-size: 12pt;">Setelah pulang dari masa peminjamannya ke Atalanta, Inzaghi harus rela dijual oleh Parma ke Juventus yang membelinya seharga 23 milliar Lira.</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt;">Tiba di Juventus bekah justru menghampiri Inzaghi. Di klub inilah ia bertemu tandem hebat, Alessandro Del Piero dan Zinedine Zidane. Bersama Del Piero, mereka berdua menjadi duet maut yang dijuluki Del-Pippo yang ditopang Zinedine Zidane di belakang mereka.</span></p>
<p><iframe title="YouTube video player" src="https://www.youtube.com/embed/OZEnsej_zT4" width="560" height="315" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe></p>
<p><span style="font-size: 12pt;">Karir Inzaghi bersama Juventus di musim pertama terbilang sukses. Pippo mencetak 18 gol dari 31 pertandingan di liga dan menjadi penentu Scudetto Juventus lewat hattrick-nya ke gawang Bologna. Sayangnya, di final Liga Champions mereka harus menyerah 0-1 dari Real Madrid.</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt;">Selama di Juventus, Inzaghi menjadi pemain pertama yang mencetak 2 Hattrick di Liga Champions ke gawang Dynamo Kyiv dan Hamburg SV.</span></p>
<ul>
<li>
<h4><strong>AC Milan (2001–2011)</strong></h4>
</li>
</ul>
<h4><span style="font-size: 12pt;">Masa awal</span></h4>
<p><span style="font-size: 12pt;">Usai 4 musim bersama Juventus dengan torehan 89 gol dari 165 partai, keberadaan Inzaghi mulai tersingkir oleh David Trezeguet. </span><span style="font-size: 12pt;">Beruntungnya pelatih Milan, Fatih Terim menyelamatkan kariernya dengan membelinya senilai 70 milliar Lira (45 juta Euro) plus Christian Zenoni pada bursa transfer musim 2001/2002. </span></p>
<p><span style="font-size: 12pt;">Walaupun nasib sepak bolanya terselamatkan, tidak dengan fisiknya. Di musim perdana bersama AC milan Inzaghi cedera dan absen hampir setengah musim. Hanya 10 gol yang ia cetak, dan Milan tersingkir di Piala UEFA.</span></p>
<h4><span style="font-size: 12pt;">Masa Keemasan Inzaghi di Ac MIlan</span></h4>
<p><span style="font-size: 12pt;">Pada musim 2002/2003 Super Pippo kembali menunjukan ketajamannya, ia menorehkan rekor sebagai pemain pertama yang mencetak 3 kali hattrick di Liga Champions, yang membantu Milan meraih trofi Liga Champions musim itu. Saat di final, Inzaghi mengalahkan bekas klubnya, Juventus, di partai final. Ia dan tandemnya, Andriy Shevchenko adalah duet maut yang disegani. Inzaghi sendiri mencetak 30 gol di semua kompetisi pada musim tersebut.</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt;">Dua musim setelahnya, Inzaghi lebih banyak berkutat dengan cedera. Namun ketika pulih, ia tak butuh waktu lama untuk kembali mencetak gol. Di Serie A, ia berhasil menjaringkan bola 12 kali dalam 23 pertandingan, dan 4 gol dalam lima partainya di Liga Champions.</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt;">Tahun berikutnya, Inzaghi kembali ikut berperan dalam kemenangan AC Milan di final Liga Champions saat mengalahkan Liverpool dengan skor 2-1. Kemenangan ini sekaligus membalas kekalahan Milan pada musim 2004/2005, di mana Inzaghi tidak bermain karena cedera.</span></p>
<p><iframe title="YouTube video player" src="https://www.youtube.com/embed/3Dn7cEoli-8" width="560" height="315" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe></p>
<p><span style="font-size: 12pt;">Sebagai juara Liga Champions, Milan berhak tampil di ajang Piala Super Eropa musim berikutnya, dan Inzaghi mencetak gol yang menyamakan kedudukan ketika menghadapi Sevilla, dan akhirnya unggul dengan skor akhir 3-1. Inzaghi pun menutup tahun 2007 dengan dua gol nya ke gawang Boca Juniors pada final Piala Dunia Antarklub, Milan menang 4-2. </span></p>
<p><span style="font-size: 12pt;">Setelah itu, naluri mencetak gol Inzaghi yang mulai tumpul karena cedera kembali tajam. Dalam 15 partai terakhir Serie A, ia mencetak 11 gol.</span></p>
<h4><span style="font-size: 12pt;">Ujung Masa Inzaghi di Milan</span></h4>
<p><span style="font-size: 12pt;">Pada 8 Maret 2009, Inzaghi mencetak hattrick ketika menghadapi Milan bertemu Torino. Hattrick itu membuatnya menjadi pemain sepak bola yang paling sering mencetak hattrick di Serie A selama 25 tahun terakhir (10 kali). Ia berada di atas Giuseppe Signori (9), Hernán Crespo (8), Roberto Baggio, Marco van Basten, Gabriel Batistuta, Abel Balbo, Vincenzo Montella (7), and David Trézéguet (6). Inzaghi membukukan satu Hattrick untuk Atalanta, empat untuk Juventus, dan lima untuk Milan. Pada musim ini juga ia mencetak gol nya yang ke 300 di Serie A musim itu ke gawang Siena.</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt;">Musim 2010-2011, ketika membela milan menghadapi Palermo ia mengalami cedera serius dan mengharuskannya absen hingga akhir musim. </span></p>
<h3>Tim Nasional Italia</h3>
<p><span style="font-size: 12pt;">Inzaghi pertama kali membela Tim Nasional Sepak Bola Italia pada 8 Juni 1997 saat menghadapi Brazil. Dia masuk dalam skuat Italia pada Piala Dunia 1998, EURO 2000, Piala Dunia 2002, dan Piala Dunia 2006.</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt;">Inzaghi adalah top skorer Italia pada kualifikasi Piala Dunia 2002 dan EURO 2004, tetapi pada EURO 2004 ia mengalami cedera sehingga tidak dipanggil.</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt;">Walaupun cederanya kambuhan saat tahun 2003 sampai dengan 2005 tetapi pada Piala Dunia 2006 pelatih Italia Marcello Lippi tetap membawanya ke dalam skuat. Dengan berisikan penyerang hebat seperti Alessandro Del Piero, Francesco Totti and Luca Toni, Inzaghi hanya tampil sekali dalam Piala Dunia ini menggantikan Alberto Gilardino pada pertandingan menghadapi Republik Ceska, dan berhasil mencetak satu-satunya gol yang ia lesakkan di Piala Dunia 2006.</span></p>
<blockquote class="twitter-tweet">
<p dir="ltr" lang="en">Happy birthday to 2006 <a href="https://twitter.com/hashtag/WorldCup?src=hash&amp;ref_src=twsrc%5Etfw" target="_blank" rel="noopener">#WorldCup</a> winner Filippo Inzaghi! 🎂🇮🇹🏆 <a href="https://twitter.com/hashtag/ThrowbackThursday?src=hash&amp;ref_src=twsrc%5Etfw" target="_blank" rel="noopener">#ThrowbackThursday</a> <a href="https://t.co/yO01auLwNc">pic.twitter.com/yO01auLwNc</a></p>
<p>— FIFA World Cup (@FIFAWorldCup) <a href="https://twitter.com/FIFAWorldCup/status/1027659069027438592?ref_src=twsrc%5Etfw" target="_blank" rel="noopener">August 9, 2018</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p><span style="font-size: 12pt;">Inzaghi juga adalah pencetak gol terbanyak ke enam untuk Italia dengan 25 golnya. Ia sejajar dengan Adolfo Baloncieri dan Alessandro Altobelli.</span></p>
<h2>Penghargaan Filippo Inzaghi</h2>
<h3>Bersama Klub:</h3>
<h4>Piacenza</h4>
<ul>
<li>Serie B: 1994/95</li>
</ul>
<h4>Juventus</h4>
<ul>
<li>Serie A: 1997/98</li>
<li>Piala Super Italia: 1997</li>
<li>UEFA intertoto cup: 1999</li>
</ul>
<h4>AC Milan</h4>
<ul>
<li>Serie A: 2003/04, 2010/11</li>
<li>Piala Italia: 2002/03</li>
<li>Liga Champions: 2002/03, 2006/07</li>
<li>Piala Super Eropa: 2003, 2007</li>
<li>Piala Super Italia: 2004, 2011</li>
<li>Piala Dunia Antarklub: 2007</li>
</ul>
<h3>Level Tim Nasional:</h3>
<ul>
<li>Piala Eropa U-21: 1994</li>
<li>Piala Dunia FIFA: 2006</li>
</ul>
<h2><span style="font-size: 18pt;">Inzaghi dan Offside</span></h2>
<p><span style="font-size: 12pt;">Pada usia dini, Pippo dilarang bermain sepak bola dengan teman-temannya karena tuduhan terus menerus &#8216;gantung gawang&#8217;. Ia selalu berada sangat dekat dengan gawang tim lawan, menunggu kesempatan untuk mencetak gol.</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt;">Dalam biografi tidak resminya tentang Inzaghi, &#8216;Pippo: A Man Offside&#8217;, Tony Davis menulis, Pada sekitar usia 8 tahun, sebuah pertandingan sepak bola remaja berakhir 14-0. Hari itu seorang pemain mencetak 14 gol, Inzaghi muda, meskipun sama sekali tidak melakukan hal lain yang bernilai bagi timnya selain menunggu bola.</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt;">Menunggu bola di garis offside adalah salah satu trik jitu Inzaghi. Ia selalu membuat bingung lawan-lawannya yang tidak mengharapkan kehadirannya. Dengan gaya dribble yang khas, penantiannya di garis offside bisa menjamin terciptanya gol bagi timnya.</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt;">Namun gaya permainannya yang seperti itu membuatnya amat dekat dengan offside. Sehingga bisa saja terjadi satu pertandingan berlalu tanpa dirinya mencetak gol, tapi tidak mungkin satu pertandingan lewat begitu saja tanpa Inzaghi terjebak offside.</span></p>
<h2>Gaya Permainan Inzaghi</h2>
<p><span style="font-size: 12pt;">Banyak pernyataan mengatakan bahwa Inzaghi adalah <em>right man on the right time</em>. Caranya mencetak gol bukan seperti Lionel Messi yang berjibaku melewati lawan dan mencetak gol. Atau seperti Cristiano Ronaldo yang melepaskan tendangan keras dari luar kotak penalti. Bukan pula seperti David Beckham yang harus menunggu timnya mendapatkan tendangan bebas untuk melepaskan tendangan akurat.</span></p>
<blockquote><p>&#8220;Inzaghi itu sama sekali tidak bisa bermain sepakbola. Dia hanya selalu berada di posisi yang tepat.” &#8211; Johan Cruyff</p></blockquote>
<p><span style="font-size: 12pt;">Pun Inzaghi terlihat sebagai pemain dengan <em>skill</em> minus karena tidak ada yang spesial dari dirinya. Namun, itu justru menjadi langkah jitu baginya. Tubuhnya kurus, dia tidak memiliki keterampilan yang baik dalam bermain bola. Ia bahkan lebih memilih mundur beberapa langkah daripada berduel, berharap lawan melakukan kesalahan. Tapi sekali lagi, penempatan posisi, itulah kehebatan Inzaghi.</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt;">Namun apa yang tampak di pertandingan bukan seringnya bukanlah gambaran lengkap dari kerja Inzaghi sebagai pesepakbola. Ada puluhan jam kerja keras untuk mencetak gol yang tampak seperti keberuntungan dan hadiah.</span></p>
<blockquote><p>“Inzaghi biasa menonton pertandingan lawan dan mempelajarinya berhari-hari. Dia tahu segalanya tentang mereka. Dia terobsesi. Banyak yang berpikir Pippo hanya beruntung, tapi keberuntungan tidak berperan. Semuanya berkat kemampuan dan persiapan.” &#8211; Gennaro Gattuso, rekan Inzaghi di AC Milan</p></blockquote>
<p><span style="font-size: 12pt;">Inzaghi adalah Inzaghi. Satu-satunya di dunia. Rubrik <a href="https://speakbola.com/category/offside/">Offside</a> kali ini khusus dipersembahkan untuk striker yang terlahir offside, Filippo Inzaghi!</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt;">Ikuti terus <a href="https://speakbola.com/">Speakbola</a> untuk dapat kabar terbaru dan unik dari dunia sepak bola. Bicara bola ya speakbola aja.</span></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://speakbola.com/fillipo-inzaghi-terlahir-offside/">Filippo Inzaghi: Striker yang Terlahir Offside</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://speakbola.com">SpeakBola</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
