Derby Della Madonnina: Duel Dua Milan di Kota Milan, AC Milan VS Inter Milan

(speakbola.com) – Derby della Madonnina adalah sebutan bagi pertemuan antara dua Milan di kota Milan, Ac Milan vs Inter Milan. Penyebutan Derby della Madonnina pada pertandingan dua Milan ini merujuk pada salah satu pemandangan utama di kota Milan, patung Perawan Maria di puncak Katedral Milan, yang sering disebut sebagai Madonnina (Madonna Kecil dalam bahasa Italia).

Laga derby AC Milan vs Inter Milan ini menjadi salah satu laga sepak bola terakbar di Italia. Berlangsung setidaknya dua kali dalam setahun di ajang Serie A. Derby della Madonninan adalah satu-satunya derby dalam sepak bola yang selalu dimainkan di stadion yang sama, San Siro, karena baik Milan maupun Internazionale menyebut San Siro sebagai rumah mereka.

Baru-baru ini, tepatnya 3 September 2022, Dua Milan ini baru saja melakukan derby della Madonnina pertamanya. Pertandingan tersebut berakhir dengan kemenangan AC Milan 3-2 Inter Milan. Pertandingan pada hari Sabtu 3 September itu menjadi derby ke-233 antara Inter dan Milan di semua kompetisi.

Merujuk pada situs resmi Inter Milan, di Serie A kedua tim telah bertemu sebanyak 177 kali. Secara keseluruhan, Nerazzurri, julukan Inter Milan, telah mencatat 68 kemenangan, lebih banyak dibandingkan dengan Rossoneri, julukan AC Milan, yang berjumlah 53. Nerazzurri juga telah mencetak lebih banyak gol dibandingkan rivalnya, 250 gol, sementara Rossoneri dengan 229 gol.

Namun derbi ini sesungguhnya tidak akan pernah ada jika saja dahulu tidak terjadi perpecahan. Awalnya dua klub ini adalah satu kesatuan di bawah satu identitas bernama Milan Foot-Ball and Cricket Club.

Sejarah Derby Della Madonnina: AC Milan VS Inter Milan

Milan Foot-Ball and Cricket Club didirikan oleh ekspatriat asal Inggris, Alfred Edwards dan Herbert Kilpin, pada 16 Desember 1899. Dua tokoh itulah yang menjadi alasan klub ini memilih kata Milan ketimbang Milano yang lebih bernuansa Italia.

Kita akan menjadi tim iblis. Warna kita adalah merah seperti api dan hitam untuk memberikan rasa takut pada lawan kita! – Herbert Kilpin, 1899

Di awal berdirinya, Milan Foot-Ball and Cricket Club dikenal sebagai salah satu klub yang kuat. Terbukti dengan torehan tiga kali menjuarai kejuaraan sepak bola Italia, yakni pada 1901, 1906, dan 1907.

Prestasi bagus tak menjamin segalanya berjalan mulus. Usai pencapaian menjuarai kejuaraan pada 1907, klub ini mengalami perpecahan pada 1908. Persoalan prinsip antara sesama pengurus klub membuat Milan Foot-Ball and Cricket Club harus pecah.

Sebagian pengurus klub ingin klub Milan menjadi klub yang didominasi oleh orang Italia. Sementara di sisi lain, ada pengurus klub yang ingin Milan Foot-Ball and Cricket Club menjadi klub yang terbuka bagi orang di seluruh dunia.

Perbedaan prinsip itu akhirnya membawa delapan pengurus klub, yang semuanya orang Swiss, keluar dan membentuk klub baru. Klub inilah yang kemudian dikenal sekarang dengan nama Inter Milan atau Internazionale.

Malam yang indah ini menganugrahi kita warna-warna lambang kita: hitam dan biru dengan latar belakang bintang-bintang berwarna emas. Harus disebut Internazionale, karena kita adalah saudara dunia. – Pendiri Inter Milan, 1908

Sementara itu, klub Milan yang pertama bernama Milan Foot-Ball and Cricket Club kini kita kenal sebagai AC Milan. Dari kisah di atas, kita bisa tahu kenapa AC Milan dijuluki Rossoneri (Merah-Hitam) dan Il Diavolo (Tim Iblis), sedangkan Inter dijuluki Nerazzurri (Hitam-Biru).

Rivalitas Setelah Perpecahan

Derby della Madonnina pertama antara dua klub kota Milan ini diadakan di final Piala Chiasso tahun 1908, sebuah turnamen sepak bola yang dimainkan di Canton Ticino, Swiss, pada tanggal 18 Oktober tahun itu. Rossoneri menang 2-1.

Namun ada pendapat lain yang dinilai lebih meyakinkan soal derby della Madonnina pertama, pendapat itu mengemukakan bahwa pertemuan mereka terlaksana di kejuaraan sepak bola Italia (Prima Categoria) pada Januari 1909. Hasilnya, Milan menang 3-2 atas Inter.

Selama masa 1940-an hingga 1960-an, Milan berjaya bersama trio Swedia: Gunnar Nordahl, Gunnar Gren, dan Nils Liedholm. Pada era 1980-an hingga 1990-an, ada trio Belanda yang menjadi andalan: Marco van Basten, Ruud Gullit, dan Frank Rijkaard. Sebuah hal yang ironis bagi AC Milan mengingat mereka adalah klub yang berpegang teguh pada prinsip Italia-sentris.

Trio Belanda: Ruud Gullit, Marco van Basten dan Frank Rijkaard

Sebaliknya, Inter malah memiliki pemain-pemain lokal hebat. Sebut saja Sandro Mazzola, Aurelio Milani, hingga Armando Picchi. Tiga tokoh ini memainkan peran krusial kala Inter menjuarai European Cup, kini Liga Champions, dua musim beruntun (1963/64 dan 1964/65). Untuk pemain non-Italia, pada masa itu ada Luis Suarez Miramontes (Spanyol) dan Jair da Costa (Brasil) yang mencetak gol di final European Cup 1965.

Di era 1980-an hingga 1990-an, Inter diperkuat oleh trio Jerman, Lothar Matthaus, Andreas Brehme, dan Juergen Klinsmann. Sayangnya, dari segi prestasi, mereka kalah mentereng dari trio Belandanya AC Milan.

Trio Jerman: Lothar Matthaus, Jurgen Klinsmann, dan Andreas Brehme

Rivalitas di Era Milenium

Di awal era 2000an, AC Milan mencuri start dengan menjuarai Serie A pada musim 2003/04, menghentikan dominasi Juventus yang 2 musim sebelumnya menjadi juara.

Penantian panjang Inter Milan untuk gelar liga, sejak terakhir menjadi juara di tahun 1989, akhirnya usai pada tahun 2006. Di tahun itu skandal Calciopoli menanggalkan Juventus dari gelar 2005/06 (serta mengurangi poin dari total keseluruhan akhir Milan) dan menyerahkan gelar juara Serie A kepada Inter, yang awalnya finis ketiga di belakang Juventus dan Milan.

Materazzi dan Rui Costa di leg kedua babak perempatfinal Liga Champions musim 2004/2005.

Inter kemudian memenangkan Serie A 2006/07. Sementara Milan, sebagai hukuman skandal calciopoli, memulai musim dengan poin negatif. Pun demikian, di musim yang sama, Milan sukse merebut Trofi Liga Champions UEFA, setelah mengalahkan Liverpool di Final di Athena.

Ketika skandal calciopoli mereda, Inter Milan terus mendominasi, memenangkan setiap liga hingga musim 2009-10 di mana mereka mengamankan gelar pada hari terakhir musim. Musim itu juga membuat Inter menjadi tim Italia pertama yang sukses memenangkan treble, Serie A, Coppa Italia, dan gelar Liga Champions.

2010 Hingga Kini

Musim berikutnya, giliran Milan yang meraih kejayaan. Dengan belanja pemain, termasuk mantan striker Inter Zlatan Ibrahimovic, Milan sukses merebut kembali Scudetto ke-18 mereka. Secara keseluruhan, memimpin klasemen liga dari awal November hingga akhir musim. Musim itu juga Milan berhasil memenangkan kedua pertandingan derby, menjaga clean sheet di kedua pertandingan tersebut.

Sayangnya, sejak 2011/12 , langkah kedua tim Milan ini tertinggal di belakang Juventus di Serie A, dengan finis kesembilan bagi Inter pada 2012/13 dan musim yang sulit bagi Milan pada 2014/15, finis kesepuluh. Meskipun demikian, Inter lebih baik dari keduanya dalam pertandingan derby, dengan sebelas kemenangan (termasuk satu di Coppa Italia 2020/21 ), enam seri dan lima kekalahan (termasuk satu di Supercoppa Italiana 2011 dan satu di 2017/18 Copa Italia ).

Di musim 2020/21, Inter memenangkan gelar kesembilan belas, menyalip Milan dalam koleksi gelar Serie A. Namun, di tahun berikutnya Milan langsung menyamakan jumlah dengan memenangkan gelar kesembilan belas mereka.

Rekor Skor Derby Della Madonnina Terbanyak di Era Milenium

1. 11 Mei 2001 (AC Milan 6-0 Inter Milan)

AC Milan pernah memiliki kenangan yang sangat manis atas Inter Milan di laga Derby della Madonnina. Milan pernah begitu perkasa saat berhadapan dengan Inter pada laga pekan ke-30 Serie A musim 2000/2001. Laga itu digelar di Giuseppe Meazza, 11 Mei 2001.

Saat itu Milan berhasil menang telak 6-0 atas Inter. Gol-gol Rossoneri dicetak oleh Gianni Comandini, Federico Giunti, Serginho dan Andriy Shevchenko.

Comandini dan Shevchenko sama-sama mencetak dua gol di laga tersebut. Laga itu menjadi laga dengan margin kemenangan terbesar dalam sejarah Derby della Madonnina, sekaligus rekor derby della madonnina terkelam bagi Inter Milan.

2. 6 Mei 2012 (Inter 4-2 AC Milan)

Milan membutuhkan kemenangan di laga ini untuk bersaing memperebutkan trofi scudetto melawan Juventus. Namun jauh dari harapan, Diavolo Rosso justru kalah dengan skor 4-2 dan harapan mereka mempertahan scudetto pun pupus. Diego Milito membuka keunggulan Inter pada menit 44.

Namun, dua gol Zlatan Ibrahimovic pada menit 44 dan 46 membuat Milan berbalik unggul. Akan tetapi, Milito kembali mencetak gol pada menit 52, 80 serta satu gol spektakuler dari Douglas Maicon saat pertandingan menyisakan waktu hanya tiga menit.

3. Derby Della Madonnina 30 Agustus 2009 (Ac Milan 0-4 Inter Milan)

Pada laga yang digelar di San Siro, Milan yang bertindak sebagai tuan rumah tampil di bawah tekanan Inter yang tampil luar biasa selama 90 menit derby della Madonnina. Inter unggul dalam segala-segalanya dari rival sekotanya itu. Alhasil pada paruh pertama laga, Inter sudah unggul 3-0 lewat gol Thiago Motta, Diego Milito (penalti) dan Maicon.

Dejan Stankovic mencetak gol tambahan untuk timnya di babak kedua. Gol-gol Nerazzurri dicetak oleh Thiago Motta menit 30, Diego Milito menit 36 (penalti), menit 45 dan Dejan Stankovic menit 67.

Saat itu adalah era di mana Inter masih dilatih Jose Mourinho dan akhirnya meraih treble.

4. 31 Januari 2016 (AC Milan 3-0 Inter Milan)

AC Milan berhasil menang telak dengan skor 3-0 kala menjamu Inter Milan di giornata 22 Serie A di San Siro, Senin (31/01/2016). Pertandingan ini berlangsung seru dan cukup keras. Kedua tim saling jual beli serangan namun Milan lah yang mampu tampil lebih superior dengan tiga gol berkat sumbangan Alex, Carlos Bacca dan M’Baye Niang.

Dengan kemenangan ini, Rossoneri mengantongi 36 poin dan tetap berada di posisi 6 dari 22 laga. Sementara itu Inter tertahan di posisi 4 dengan koleksi 41 poin.

5. 3 April 2011 (AC Milan 3-0 Inter Milan)

AC Milan keluar sebagai pemenang Derby della Madonnina. Dalam laga yang berlangsung dalam tempo tinggi dan sarat emosi, Rossoneri sukses mengalahkan Inter Milan dengan skor telak 3-0. Dalam pertandingan di San Siro, Minggu (3/4/2011), Milan langsung unggul pada menit pertama. Pato sukses mencatatkan namanya di papan skor setelah tembakannya merobek gawang Inter.

Berusaha menyamakan kedudukan, Nerazzurri malah kehilangan satu pemain pada awal babak kedua. Cristian Chivu dikartumerah karena mengasari Pato. Milan menggandakan keunggulan saat laga berlangsung satu jam. Pato kembali sukses menaklukkan Julio Cesar.

Antonio Cassano akhirnya menggenapi kemenangan Milan pada menit-menit akhir. Tendangan penalti bekas pemain Sampdoria ini mengelabui Cesar. Pada masa injury time, Milan juga harus bermain dengan sepuluh pemain. Cassano harus meninggalkan lapangan karena mendapatkan kartu kuning kedua.

Pemain yang Pernah Membela AC Milan dan Inter Milan dari Era 90an hingga Kini

  • Cristian Brocchi (Milan 1994-1998, Inter 2000-2001, Milan 2001-2009)
  • Roberto Baggio (Milan 1995-1997, Inter 1998-2000)
  • Maurizio Ganz (Inter 1995-1997, Milan 1998-2001)
  • Francesco Coco (Milan 1995-2002, Inter 2002-2007)
  • Patrick Vieira (Milan 1995-1996, Inter 2006-2010)
  • Edgar Davids (Milan 1996-1997, Inter 2004-2005)
  • Taribo West (Inter 1997-1999, Milan 2000-2001)
  • Ronaldo (Inter 1997-2002, Milan 2007-2008)
  • Thomas Helveg (Milan 1998-2003, Inter (2003-2004)
  • Andres Guglielminpietro (Milan 1998-2001, Inter 2001-2004)
  • Andrea Pirlo (Inter 1998-2001, Milan 2001-2011)
  • Dario Simic (Inter 1999-2002, Milan 2002-2008)
  • Christian Vieri (Inter 1999-2005, Milan 2005-2006)
  • Clarence Seedorf (Inter 2000-2002, Milan 2002-2012)
  • Drazan Brncic (Milan 2000-2001, Inter 2001-2003)
  • Umit Davala (Milan 2001-2002, Inter 2002-2004)
  • Hernan Crespo (Inter 2002-2003, Milan 2004-2005, Inter 2008-2009)
  • Giuseppe Favalli (Inter 2004-2006, Milan 2006-2010)
  • Leonardo Bonucci (Inter 2005-2007, Milan 2017-2018)
  • Zlatan Ibrahimovic (Inter 2006-2009, Milan 2010-2012 dan 2020-sekarang)
  • Mario Balotelli (Inter 2007-2010, Milan 2013-2014 dan 2015-2016)
  • Sulley Muntari (Inter 2008-2012, Milan 2012-2015)
  • Alessandro Mancini (Inter 2008-2010, Milan 2010)
  • Giampaolo Pazzini (Inter 2011-2012, Milan 2012-2015)
  • Antonio Cassano (Milan 2011-2012, Inter 2012-2013)
  • Matias Silvestre (Inter 2012-2013, Milan 2013-2014)

Pemain Paling Banyak Perpartisipasi di Derby Della Madonnina

  • Paolo Maldini (Milan) = 56
  • Javier Zanetti (Inter) = 47
  • Guiseppe Bergomi (Inter) = 44
  • Alessandro Costacurta (Milan) = 43
  • Gianni Rivera (Milan) = 42

Pencetak Gol Terbanyak Derby Della Madonnina

  • Andriy Shevchenko (Milan) = 14 gol
  • Giuseppe Meazza (Inter) = 13 gol
  • Istvan Nyers (Inter) = 11 gol
  • Gunnar Nordahl (Milan)= 11 gol
  • Zlatan Ibrahimovic (Kedua klub) = 10 gol

Rekor Terbanyak Kemenangan Derby Della Madonnina

Serie A (1929–present): Total Pertandingan 177

  • AC Milan: 54
  • Inter Milan: 67
  • Seri: 56

Coppa Italia: Total Pertandingan 27

  • AC Milan: 10
  • Inter Milan: 9
  • Seri: 8

Supercoppa Italiana: Total Pertandingan 1

  • AC Milan: 1
  • Inter Milan: 0
  • Seri: 0

UEFA Champions League: Total Pertandingan 4

  • AC Milan: 2
  • Inter Milan: 0
  • Seri: 2

2 Klub 1 Stadion

Meski kedua klub dikenal sebagai musuh bebuyutan, AC Milan dan Inter Milan sampai saat ini masih bermarkas di stadion yang sama, yakni San Siro atau Giuseppe Meazza. Stadion legendaris ini sudah berdiri sejak 1925. Pembangunannya digagas oleh mantan presiden AC Milan, Piero Pirelli.

Sejatinya, stadion ini dibangun untuk menjadi markas AC Milan. Sementara Inter Milan bermain di Arena Civica, lapangan sepak bola yang dulunya merupakan lokasi parede militer pasukan Napoleon Buonaparte.

Namun akibat krisis keuangan yang dialami Milan pada tahun 1935, klub terpaksa menjual San Siro ke pemerintah kota Milan. Pemerintah kemudian melakukan sejumlah renovasi dan menambah kapasitas stadion. Baru setelah itu, pada tahun 1947 Inter Milan memilih pindah ke sana.

Pada tahun 1980, pemerintah kota Milan mengubah nama San Siro menjadi Giuseppe Meazza untuk menghormati legenda sepak bola timnas Italia yang semasa hidupnya juga pernah memperkuat Inter dan AC Milan.

Meski demikian, suporter AC Milan tetap menyebut stadion mereka sebagai San Siro karena Giuseppe lebih identik dengan Inter dan pernah bermain di klub tersebut selama 14 tahun.

Itu dia Speakers sejarah panjang perseteruan dua klub asal Milan, AC Milan vs Inter Milan, dalam derby della Madonnina. Rivalitas dua klub sekota ini selalu layak untuk dinanti.

Ikuti terus Speakbola untuk dapat kabar terbaru dan unik dari dunia sepak bola. Bicara bola ya speakbola aja.