Champions League 2004 Throwback: Ketika Tim Kuda Hitam Jadi Jawara UEFA Champions League

(speakbola.com)Champions League 2004 mungkin adalah salah satu fase UCL yang selalu dikenang oleh banyak pecinta sepak bola. Alasannya karena yang berlaga di partai final saat itu bukanlah dua tim besar melainkan dua kuda hitam yang tak terprediksi, FC Porto VS AS Monaco.

26 Mei 2004, di stadion Arena AufSchalke, Jerman, digelarlah partai puncak UEFA Champions League yang mempertemukan FC Porto VS AS Monaco.

Di momen itulah nama Jose Mourinho, the special one, mulai terdengar di Eropa, dan menunjukkan ke-spesial-annya dalam dunia sepak bola. Tim besutannya, FC Porto, berhasil mengalahkan Monaco dengan skor 3-0 di partai final Champions League 2004.

Langkah Porto Meniti Tangga Juara Champions League 2004

Porto membuka  perjalanan Champions League mereka dengan 2 hasil tidak menyenangkan. Ditahan imbang 1-1 di kandang Partizan Belgrade dan dihajar Real Madrid 3-1 di kandang sendiri.

Namun di pekan ketiga peruntungan mereka berubah. Skuad asuhan Jose Morinho sukses mengalahkan tuan rumah Marseille yang dimotori oleh Didier Drogba 2-3. Kemudian menyusul dua kemenangan berutun di kandang atas Marseille dan Partizan, serta hasil seri di Santiago Bernabeu. Hasil dari 3 pertandingan akhir mereka membawa Porto lolok ke Babak 16 besar.

Babak 16 Besar UEFA Champions League 2004

Langkah Porto di fase gugur Champions League harus dijegal oleh Manchester United pada pertemuan pertama. Jose Mourinho, yang saat itu adalah nama baru di dunia kepelatihan mesti berhadapan dengan Sir Alex Ferguson yang kawakan.

Tapi keadaan itu seolah tak berpengaruh bagi Porto. Di hadapan publiknya sendiri, Porto sukses memenangi leg pertama di Dragao dengan skor 2-1 berkat dua gol Benni McCarthy.

Di leg kedua, berganti Porto yang pergi menyambangi Old Trafford. Tertinggal satu gol dan kalah jumlah gol tandang membuat Porto seoalah akan tersingkir. Namun saat laga sudah memasuki injury time, Costinha memanfaatkan kesalahan kiper Setan Merah, Tim Howard, untuk membuat sebuah gol penyeimbang yang dramatis.

Tim Howard menepis bola tendangan bebas dari Benni McCarthy ke wilayah depan gawangnya sendiri. Bola itu kemudian secepat kilat disambar oleh Costinha untuk membawa Porto lolos ke perempat final Champions League 2004.

Merespon gol yang dicetak anak asuhnya itu, Mourinho berlari menyusuri touchline untuk ikut berselebrasi dengan para pemainnya di sudut lapangan. Sebuah aksi ikonik dari Mourinho, yang kembali diulangnya kala Inter Milan mengalahkan Barcelona di semifinal leg kedua Champions League 2010.

Babak Perempat Final Champions League 2004

Lawan berikutnya yang harus dihadapi Deco dkk di perempat final adalah Lyon. Pada Leg pertama yang dimainkan di kandang mereka, Porto sukses meraih kemenangan 2-0 berkat gol dari Deco serta Ricardo Carvalho.

Leg kedua yang berlangsung di Prancis, menghadirkan Maniche sebagai bintang pertandingan. Ia memborong dua gol untuk mengamankan kelolosan Porto ke semifinal Champions League unuk pertama kalinya dalam satu dekade terakhir.

Bertemu Super Depor di Semifinal Champions League 2004

Deretan tim raksasa seperti Arsenal, AC Milan, dan Real Madrid secara mengejutkan terlempar dari turnamen pada babak perempat final, menyisakan Chelsea. Porto sendiri harus berjumpa dengan Deportivo La Coruna di semifinal, yang sebelumnya mengukir sejarah UCL dengan sebuah epic comeback saat membalikkan ketertinggalan agregat 4-1 atas AC Milan.

Hanya mampu meraih hasil imbang pada laga semifinal leg pertama di Portugal, Porto sukses menumbangkan Super Depor di hadapan publik mereka sendiri dengan skor 0-1. Sebuah tendangan penalti yang diambil oleh Derlei memaksa Super Depor angkat kaki dari turnamen.

Final Champions League 2004

Titik puncak dari sebuah musim UCL yang penuh kejutan adalah saat dua tim kuda hitam berjumpa di partai final, FC Porto VS AS Monaco. Namun Monaco yang sebelumnya menjungkalkan Chelsea, tim yang lebih diunggulkan melaju ke final, memang bukanlah tandingan sepadan bagi anak asuh Mourinho.

Dalam laga pamungkas di Gelsenkirchen, Jerman, Striker Brasil Carlos Alberto membuka skor lima menit sebelum jeda babak pertama. Menyusul di babak kedua, gol dari Deco serta Dmitri Alenichev melengkapi kemenangan 3-0 Porto dan Mourinho.

Kemenangan di Champions League 2004 itu adalah sebuah hal besar baik bagi Porto dan Mourinho. 17 tahun lamanya klub juara liga Portugal itu harus menanti untuk kembali menjadi penguasa Eropa. Terakhir mereka menjuarai Liga Champios adalah di tahun 1987. Sementara bagi Mourinho, kemenangan itu adalah jalan pembuka baginya ke karir cemerlang bersama beberapa klub selanjutnya.

Skuad Porto di Final Champions League 2004

Pemain Inti:

  • GK 99 Vitor Baia
  • RB 22 Paulo Ferreira
  • CB 2 Jorge Costa (c)
  • CB 4 Ricardo Carvalho
  • LB 8 Nuno Valente
  • DM 6 Costinha
  • CM 23 Pedro Mendes
  • CM 18 Maniche
  • AM 10 Deco
  • CF 19 Carlos Alberto
  • CF 11 Derlei

Pemain Pengganti

  • GK 13 Nuno
  • DF 3 Pedro Emanuel
  • DF 5 Ricardo Costa
  • DF 17 Jose Bosingwa
  • MF 15 Dmitri Alenichev
  • FW 9 Edgaras Jankauskas
  • FW 77 Benni McCarthy

Pelatih: Jose Mourinho

 

Tim Kuda Hitam UEFA Champions League 2022/2023

Keadaan di Champions League 2003/2004 terulang kembali di Champions League musim ini, di mana banyak tim-tim kuda hitam yang lolos ke fase gugur. Setidaknya ada enam tim bukan unggulan, yang bisa dibilang sebagai kuda hitam di babak 16 besar UCL musim ini.

Meskipun semunya tidak diunggulkan sebagai juara tetapi semuanya memastikan diri lolos ke babak 16 besar dengan hasil yang memuaskan. Keenam tim tersebut adalah sebagai berikut.

1. FC Porto: Sang Juara Champions League 2004

Juara Champions League 2004 ini menjadi salah satu wakil Portugal yang lolos ke babak 16 besar UCL 2022/2023 selain Benfica. Kepastian laju mereka ke fase gugur didapatkan dengan menjadi juara grup B dengan total 12 poin.

Dari 6 laga yang dijalani oleh Porto di fase grup, mereka berhasil mencatatkan 4 laga menang dan 2 kalah. Mereka unggul atas tiga tim pesaingnya, seperti Club Brugge, Bayern Leverkusen, dan Atletico Madrid.

2. RB Leipzig

RB Leipzig lolos ke babak gugur dengan status sebagai runner-up grup F dengan torehan 12 poin. Leipzig meraih 4 kemenangan dan 2 hasil kalah dalam 6 laga terakhir fase grup. Mereka hanya terpaut satu poin dari Real Madrid sang juara grup.

3. Club Brugge

Tim kuda hitam yang satu ini adalah wakil Belgia, Club Brugge. Amat langka ditemui wakil Belgia di ajang Liga Champions. Meskipun tak diunggulkan tapi Club Brugge mampu menembus fase grup dengan finis sebagai runner-up di grup B.

Club Brugge sukses membukukan 3 laga menang, 2 seri, 1 kalah di fase grup UCL. Mereka hanya kalah satu poin dari Porto yang berhasil menjadi juara grup B.

4. Eintracht Frankfurt

Kuda hitam UCL 2022/2023 selanjutnya adalah wakil Jerman, Eintracht Frankfurt. Juara bertahan UEFA Europa League (UEL) 2021/2022 ini lolos ke babak 16 besar sebagai runner-up grup D.

Eintracht Frankfurt sukses mengumpulkan 10 poin di fase grup dengan catatan 3 laga menang, 1 seri, 2 kalah. Mereka hanya terpaut satu poin dari sang juara grup, Tottenham Hotspur.

5. Napoli

Kuda hitam dengan catatan yang paling baik di UCL 2022/2023, Napoli adalah Wakil Italia yang lolos ke fase gugur sebagai juara grup A.

Saat fase grup, Napoli berhasil mengungguli dua tim besar Eropa langganan UCL yaitu Liverpool dan Ajax Amsterdam. Napoli mengumpulkan 15 poin dengan catatan 5 laga menang dan 1 kalah. Mereka unggul selisih gol atas Liverpool.

6. Benfica

Satu lagi kuda hitam wakil Portugal di babak 16 besar Champions League 2022/2023, Benfica. Benfica lolos ke babak 16 besar dengan status juara grup H. Mereka unggul atas dua tim besar Eropa yaitu Paris Saint-Germain dan Juventus. Hebatnya lagi, Benfica tak terkalahkan di fase grup.

Keberadaan 6 kuda hitam di Champions League saat ini membawa kembali memori ke saat tim kuda hitam, yaitu FC Porto, menjadi juara Champions League 2004. Akankah memori itu bisa terulang kembali nanti, Speakers? Layak dinanti!

Baca juga artikel-artikel menarik lainnya seputar liga champions di rubrik Offside dan Bolastori. Bicara bola, ya SpeakBola aja!