Calciopoli, Biang Keladi Merosotnya Sepak Bola Italia

(speakbola.com) – Ada masa di mana kata capocannoniere lebih populer digunakan untuk menyebut pencetak gol terbanyak ketimbang top skor, gelar juara disebut scudetto, pekan disebut giornata, dan gelandang disebut centrocampista. Istilah-istilah tersebut adalah Bahasa Italia yang familiar di telinga dan digunakan dalam pembicaraan sepak bola sehari-hari seiring dengan begitu digdayanya persepakbolaan Italia di era 90-an hingga awal 2000an. Hingga, skandal calciopoli melanda sepak bola Italia.

Apa itu Calciopoli?

Calciopoli adalah skandal suap, korupsi, dan pengaturan skor di Serie A liga Italia yang dilakukan secara masif, terstruktur, dan sistematis, yang terungkap pada Mei 2006. Skandal ini melibatkan beberapa klub seperti Juventus, Arezzo, Fiorentina, Lazio, AC Milan, hingga Reggina; pemain; wasit; hakim; hingga politisi Italia. 

Meskipun terdapat sejumlah klub yang tersangkut kasus suap, pengaturan skor, dan koripsi ini, tetapi Juventus adalah yang paling tersorot. Petinggi Juventus diindikasi merupakan aktor intelektual di balik skandal ini.

Skandal Calciopoli Juventus

Menurut sebuah jurnal berjudul An analysis of consumer response to corruption: Italy’s Calciopoli scandal, skandal calciopoli mulai diinvestigasi pada musim 2004/2005 saat Juventus berhasil menjuarai Serie A dengan 86 poin, unggul tujuh poin dari rival terdekatnya, AC Milan. Penyelidikan Otoritas Sepak Bola Italia (FIGC), dibantu kejaksaan dan kepolisian, memperlihatkan ada setidaknya 20 pertandingan Juventus yang dianggap mencurigakan dan terindikasi adanya suap, pengaturan skor, juga intervensi terhadap wasit.

Jurnal yang disusun oleh Babatunde Buraimo, Giuseppe Migali, dan Rob Simmons tersebut juga mengungkapkan tiga bentuk intervensi yang dilakukan pejabat Juventus kepada wasit:

  1. Wasit yang dikenal punya kecenderungan mendukung Juventus dialokasikan untuk pertandingan-pertandingan menentukan bagi Juventus.
  2. Para wasit didorong untuk memberikan keputusan menguntungkan bagi Juventus
  3. Ketiga, wasit akan menerima ancaman skorsing dari tugas hingga pemecatan apabila keinginan direksi tidak dipenuhi.

Hukuman Calciopoli

Setelah menjalani proses penyelidikan akhirnya hukuman pun dijatuhkan bagi klub-klub yang terlibat skandal.

  • Juventus mendapatkan pengurangan sembilan poin, tidak berhak mengikuti Liga Champions Eropa 2006/2007, serta gelar Serie A musim 2004/2005-2005/2006 dilucuti. Hingga yang paling pahit adalah mereka harus terdegradasi ke Serie B.
  • Lazio memperoleh pengurangan tiga poin untuk Serie A musim 2006/2007 dan tidak berhak mengikuti Piala UEFA 2006/2007.
  • Fiorentina dikurangi 19 poin untuk Serie A musim 2006/2007 dan tidak berhak mengikuti Liga Champions Eropa 2006/2007
  • AC Milan mendapatkan pengurangan delapan poin untuk Serie A musim 2006/2007 dan pengurangan 30 poin untuk Serie A musim 2005/2006
  • Reggina dijatuhi denda senilai £68.000. Di samping itu, presiden mereka, Pasquale Foti, didenda sebesar £20.000 dan dilarang beraktivitas di dunia sepakbola selama dua setengah tahun.

Aktor Intelektual Skandal Calciopoli

Berdasarkan ratusan rekaman percakapan dan ribuan dokumen yang masuk ke FIGC, tim penyelidik menyimpulkan bahwa Luciano Moggi punya andil penting dalam skandal suap dan pengaturan skor ini. Luciano Moggi bisa memilih wasit untuk pertandingan Juventus, memengaruhi pemilihan wasit untuk tim lain, menunda bahkan membatalkan pertandingan, dan menyetir arah liputan media. Saking hebatnya pengaruh Luciano Moggi, skandal ini juga disebut publik sebagai “Moggiopoli.”

Atas peran sentralnya dalam skandal Calciopoli, Otoritas Sepak Bola Italia (FIGC) memberikan hukuman terhadap Luciano Moggi berupa pencekalan di dunia sepak bola seumur hidup.

Menanggapi keputusan tersebut, Luciano Moggi lantas mengajukan banding ke pengadilan tinggi dan berhasil lolos dari dua tuduhan terkait kecurangan olahraga. Ia memang tak bebas dari tuduhan konspirasi kriminal, tapi kasus telah melewati batas kedaluwarsa pada 2015. Dan, pada senin (24/3/2015), Pengadilan tinggi memutuskan Luciano Moggi Bebas.

Menurut Luciano Moggi, dalam sembilan tahun penyidikan, FIGC hanya menemukan satu wasit yang bersalah. Calciopoli merupakan senjata tanpa amunisi karena tidak adanya bukti.

Efek Calciopoli Terhadap Sepak Bola Italia

“Calciopoli seperti bom atom. Sepak bola kita hancur karenanya,” – Del Piero

Alessandro Del Piero, legenda sepak bola Juventus, yang saat skandal melanda ada di dalam klub, menggambarkan calciopoli sebagai bom atom, yang efeknya masih terasa di sepak bola Italia, kepada Gazetta dello Sport.

Menurut Del Piero, skandal itu sudah menyebabkan kemerosotan sepak bola Italia belakangan ini. Setelah dilanda kasus calciopoli, sepak bola Italia mengalami kemunduran karena citranya jadi buruk. Di saat yang sama, liga-liga lain justru terus berkembang.

Seperti Premier League yang meledak karena kemampuan berhubungan dengan berbagai macam merek di seluruh dunia. Begitu pula dengan luasnya distribusi hak siar mereka.

Selain itu Real Madrid dan Barcelona juga sudah semakin maju dengan kebijakan korporasi mereka yang respektif. Sedangkan Jerman menyempurnakan rute yang telah mereka bangun.

Mantan striker Juventus itu menambahkan, pun negaranya meraih gelar Piala Dunia 2006, para investor asing malah datang ke Prancis. Mereka lebih memilih mentransfromasi klub-klub seperti PSG dan Monaco, bukannya memilih klub Italia.

Faktor Lain Penyebab Kemerosotan Sepak Bola Italia

  • Penonton Yang Kian Berkurang

Melansir data dari situs worldfootbal.net, jumlah penonton Seria A yang hadir ke stadion untuk menonton pertandingan langsung kian berkurang dari tahun ke tahun. Data di tahun 1998/1999 menyebutkan bahwa jumlah rata-rata penonton hadir ke stadion sebesar 30.784 penonton. Angka itu menurun drastis di tahun 2000an awal, contohnya di tahun 2003/2004 menjadi 25.796 penonton.

Data rata-rata jumlah penonton Serie A tahun 2006./2007

Penurunan paling tajam terlihat di tahun 2006/2007, saat skandal calciopoli mencuat, 18.282 penonton. Hingga sampai sekarang hanya berkisar 25 ribu penonton yang hadir ke stadion untuk menyaksikan tim kesayangan. 

  • Keuangan Buruk Klub Serie A

Masih berkaitan dengan poin di sebelumnya. Merosotnya jumlah penonton yang hadir ke stadion bisa diindikasikan bahwa kepedulian mereka mulai bergeser ke klub lain. Hal tersebut dapat menggeser uang yang seharusnya masuk untuk membeli merchandise klub tersebut beralih ke klub lain.

Di samping itu, seperti yang dikatakan Del Piero, investor asing lebih memilih berinvestasi di klub negara lain bukannya Italia karena citra Serie A yang buruk.

  • Sepak Terjang Klub Italia Di Eropa Merosot

Di era 90-an hingga awal 2000-an dominasi klub-klub Italia di kancah liga-liga Eropa amat besar. Nama-nama seperti AC Milan dan Juventus kerap ada di partai final Liga Champions Eropa. Sementara di Europa League, kasta kedua liga Eropa, klub-klub Italia juga tetap mendominasi. Bahkan sekelas AC Parma dan Torino pun masuk ke dalam final.

Namun memasuki era milenium, dominasi klub-klub Italia mulai luntur. Mereka digantikan dengan klub Inggris, Spanyol, dan Jerman. Sejak 1998 hingga kini, hanya 6 kali klub Italia masuk ke final Liga Champions Eropa dan 3 kali menjadi juara. Sisanya didominasi klub Spanyol, Real Madrid atau Barcelona.

  • Minim Pemain Bintang di Serie A

Finansial yang buruk membuat pemain bintang enggan ke Serie A karena pastinya tidak mendapatkan bayaran sebaik yang ditawarkan liga lain. Dengan tidak adanya pemain bagus di Serie A, standard liga pun akan merosot sehingga prestasi klub-klub serie A akan semakin turun. Sementara bagi fans, tidak adanya pemain bintang di Serie A membuat mereka malas menonton Serie A.

Itu dia Speakers penjelasan soal Calciopoli, sebuah skandal suap, pengaturan skor, dan korupsi sepak bola, yang pernah mengguncang Italia dalam rubrik Bolastori kali ini.

Baca artikel menarik Bolastori lainnya untuk mendapatkan kabar terkini dan unik dari dunia sepak bola. Bicara bola ya speakbola aja!